The Demography Background of Trump Win

By On Monday, February 27 th, 2017 · one Comment · In

Perubahan komposisi penduduk berpengaruh terhadap ekonomi dan politik suatu negara, termasuk Pemilihan Presiden. Sistem politik Amerika Serikat (AS) menganut Trias Politica, dimana terdapat Congress, Presiden, dan Supreme Court yang menjalankan fungsinya masing-masing. Posisi Supreme Court sangat penting dan memiliki kekuasaan yang besar dalam menjalankan fungsi yudikatif. Supreme Court juga penting karena diangkat oleh Presiden dengan masa jabatan seumur hidup.

Mekanisme Pemilihan Presiden di AS berdasarkan pada Electoral College. Electoral College diapropiasi dengan jumlah penduduknya. Jumlah penduduk dan jumlah imigran tentu berbeda-beda antar state dan antar tahun. Menurut sejarah dan konstitusi, Pemerintah negara bagian justru lebih berkuasa dibanding pemerintah federal. Pemerintah federal mengatur hal-hal seperti perdagangan dan hubungan internasional. Dengan demikian, kemenangan Presiden di AS ditentukan oleh kemenangan di negara bagian. Hanya beberapa negara bagian yang memiliki sistem yang sedikit berbeda, yaitu tidak menganut winner takes all. 

Perubahan variabel demografi antar tahun dan antar negara bagian seperti jumlah penduduk dan jumlah imigran berpengaruh terhadap komposisi penduduk dan electoral college. Sebagai contoh, berdasarkan Sensus 1970, Florida memiliki electoral vote sejumlah 17, New York 41, California 45. Pada tahun 2012, electoral map juga berubah karena “purely demographic change”, akibat faktor kelahiran dan kematian. 

Faktor demografi tingkat kelahiran AS yang menurun, juga menyebabkan perubahan ketenagakerjaan di AS. Saat ini jumlah tenaga kerja di AS menurun, sementara jumlah tenaga kerja di negara tetangga, yaitu Meksiko masih besar. Dengan adanya NAFTA (North American Free Trade Agreement), perusahaan-perusahaan AS bisa memindahkan kegiatan produksinya ke Meksiko. Sebaliknya, orang-orang Meksiko juga bisa bekerja di AS. Jadi secara ekonomi, NAFTA mendatangkan manfaat bagi kedua negara. 

Namun di sisi lain, saat perusahaan-perusahaan AS berpindah, ada orang-orang yang kehilangan pekerjaan. “Mengimpor” tenaga kerja (kebanyakan ilegal) ke AS juga menimbulkan konflik sosial di antara penduduk di AS. 

Faktor lain yang turut berpengaruh dalam menentukan peta Pemilihan Presiden di AS adalah kecenderungan wilayah kekuasaan partai tertentu. Pada tahun 2012, Partai Demokrat menguasai wilayah pinggiran, sedangkan Partai Republik menguasai wilayah tengah AS. Menurut “county”, pada tahun 2016, Partai Demokrat menang di kota-kota besar, namun kalah di tingkat “county”. Terdapat area-area yang dimenangkan Obama di tahun 2012, sekarang dimenangkan Trump di tahun 2016. Area-area tersebut adalah area industri, seperti Michigan. Trump juga memenangkan wilayah Florida dan beberapa negara bagian. 

Dalam hal ras/etnik, s.d 2015 komposisi penduduk menurut ras berubah. Termasuk meningkatnya penduduk Hispanik. Dengan komposisi penduduk sekarang menurut ras/etnik, diperkirakan Republikan akan “selalu” menang dalam pemilihan di AS. Penduduk Hispanik juga beragam, sehingga terjadi konflik sosial di antara kelompok penduduk ini. Sebagian adalah penduduk legal, sebagian berstatus ilegal. 

Menurut umur, Hillary Clinton memenangkan suara pemilih usia muda, sementara itu Donald Trump menang atas suara pemilih usia yang lebih tua. Pemilih Trump pada umumnya juga memiliki karakteristik kaum pekerja.  

Hal penting yang dapat dipelajari dari pengalaman AS adalah pentingnya faktor demografi (jumlah dan komposisi penduduk menurut wilayah, usia, dan lain-lain) dan sistem pemilihan dalam memengaruhi politik. 

Demikianlah yang disampaikan oleh Bapak Turro S. Wongkaren, Ph.D, Kepala LD FEB UI, dalam Seminar Reguler LD FEB UI pada tanggal 19 Januari 2017 di R. Kartono Gunawan, LD FEB UI. 

About

One Comment on “The Demography Background of Trump Win

  1. Pingback: Seminar Reguler “The Demographic Background of Trump Win” Lembaga Demografi FEB UI

Comments are closed.