Lembaga Demografi - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Lembaga Demografi - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Modalitas dan Peluang Kemitraan Mendukung Ekosistem Asuhan Paliatif di Indonesia

Bicara pertumbuhan ekonomi akan melekat dengan kesejahteraan masyarakat. Lembaga Demografi FEB UI sebagai pusat kajian yang menekankan isu kependudukan dalam pembangunan serta pentingnya perspektif multidisiplin memahami bahwa terdapat risiko atau kondisi kerentanan dalam siklus hidup, termasuk kerentanan penyakit yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, dibutuhkan perawatan yang kontinu. Pada 14 Desember 2023, Lembaga Demografi FEB UI membuka ruang diskusi bagi stakeholders terkait isu paliatif di Indonesia.

Diskusi dengan tema “Modalitas dan Peluang Kemitraan Mendukung Ekosistem Asuhan Paliatif (Palliative Care) di Indonesia” ini sejalan dengan tema Hari Paliatif Sedunia 2023 yang menekankan pentingnya modal sosial dan komunitas dalam memberikan layanan. Harapannya, pertemuan ini dapat menjadi ruang diskusi para akademisi untuk mendiskusikan pemikiran akademik melalui penelitian dan pengajaran yang mendorong pengarusutamaan isu paliatif di Indonesia (knowledge stocktaking).

Asuhan paliatif adalah suatu pendekatan berdimensi fisik, psikologi, sosial, dan spiritual yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien (dewasa dan anak) serta keluarga yang menghadapi masalah terkait penyakit mengancam jiwa. Asuhan paliatif meliputi upaya untuk mencegah dan meredakan penderitaan melalui pengenalan dini, pengkajian yang tepat, serta penanganan nyeri dan masalah terkait lainnya. Dalam konteks global, kebutuhan asuhan paliatif diperkirakan mencapai 56 juta orang pada tahun 2017 (WHPCA, 2020).

Di Indonesia, data dan kajian akademik mengenai asuhan paliatif masih sangat terbatas. Dr. Flora Aninditya, peneliti LD FEB UI, menjelaskan data RISKESDAS tahun 2007-2018 yang menunjukkan adanya tren meningkat pada persentase penduduk yang menderita penyakit kronis seperti diabetes, kanker, stroke, jantung, gangguan jiwa berat, dan penyakit kronis lainnya. Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang sehingga membutuhkan pelayanan paliatif.

Ns. Theresia Oktariana Sitorus, MNg., perwakilan dari Elisabeth Kübler-Ross Foundation (South East Asian Chapter), menyampaikan bahwa asuhan paliatif erat dengan menghadapi rasa duka (grief) setelah kehilangan. Kebanyakan masyarakat tidak ingin membicarakan permasalahan hidupnya atau grief yang dialaminya. Namun, sebetulnya masyarakat diharapkan dapat kembali beraktivitas setelah kehilangan dengan melewati tahapan yang sangat dinamis, yaitu (1) denial, (2) kesal/amarah, (3) depresi, (4) tawar menawar, dan (5) penerimaan.

Selanjutnya, dari sisi pemerintah, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan kebijakan di Indonesia belum advanced terkait asuhan paliatif. Namun, 6 pilar transformasi kesehatan memberikan porsi yang memadai untuk kegiatan paliatif di Indonesia. Upaya seperti menetapkan kebijakan perawatan paliatif, melakukan kajian pelayanan paliatif terintegrasi di layanan primer yang sudah dilaksanakan oleh RSCM bekerja sama dengan WHO Indonesia.
Nurhanita, M.Sc., aktivis dan pemerhati paliatif di Indonesia, sepakat bahwa palliative care tidak hanya dilakukan saat “menjelang kematian“, tetapi sudah dimulai sejak diagnosis ditetapkan. Tidak hanya untuk penyakit kanker, tetapi mencakup penyakit menular dan tidak menular. Paliatif di Indonesia belum termasuk ke dalam sistem, masih berupa insiatif dari masyarakat. Pada akhirnya, perihal kesakitan, kedukaan, dan kematian adalah bagian dalam komunitas sebagai modal sosial.

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi narahabung:
Finda Prafianti, S.Sos., M.E.
Corporate Secretary Lembaga Demografi FEB UI
corsec@ldfebui.org
08119692610